Dari Pabrik ke flat Sewaan
Pada masa tahun 80-an, wilayah tempat bangunan ini berlokasi, merupakan kumpulan perumahan padat yang didominasi oleh penduduk asli Betawi. Usaha industri rumah (home industry) menjadi pendukung ekonomi utama di sini. Beberapa pabrik tekstil dan pabrik batik disamping usaha makanan tradisional banyak terdapat. Salah satu pemilik pabrik tersebut adalah Ferry K, seorang usahawan ulet telah berkiprah dengan sukses di sini. Sejalan dengan perkembangan wilayah ini yang semakin diminati oleh para investor, maka tumbuhlah beragam gedung-gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan berskala kota. Tanpa ragu, Ferry memindahkan usaha batiknya ke tempat lain dan lahan tempat usaha batik ini digunakan untuk membangun sebuah flat modern untuk disewakan.
Bangunan Tropis Empat Lantai,
Tridhistana Arsitektur membangun flat empat lantai di atas lahan 1532 m2. karakter bangunan yang ingin ditampilkan ialah flat bersuasana tropis tetapi kontras terhadap sekitarnya. Bangunan yang terdiri dari satu dan dua lantai ini bersanding dengan bangunan-bangunan lain, sehingga memang tampak lebih menonjol dari segi Koefisien Lantai Bangunan (KLB).
Hal pertama yang dikondisikan tim adalah desain bangunan flat tersebut harus menunjang kebutuhan konsumen masyarakat urban yaitu harus bersih, nyaman, aman, dan indah. Kondisi tersebut dipertahankan agar pelayanan dan fasilitas flat setidak-tidaknya sama dengan hotel.
Lantai dasar dimanfaatkan untuk lahan parker mobil penyewa.
Pola ruang parkir serupa dengan pola parker pusat perbelanjaan dengan system grid. Jalur lalu lintas kendaraan juga dibuat terpisah antara yang keluar dan yang masuk sehingga memudahkan kendaraan bermanuver.
Lobi ditempatkan dibagian depan lantai dasar yang berfungsi sebagai ruangan duduk tamu yang dilengkapi ruangan kerja pemilik dan meja penerima. Area ini ditunjang oleh void yang memperlihatkan lantai-lantai di atasnya dan banyak bukaan. Untuk jalur lalu lintas orang, disediakan elevator mungil yang mengakses dari lantai dasar sampai lantai tiga.
Tiap-tiap lantai mempunyai luas yang berbeda-beda sesuai dengan jumlah dan ukuran kamar. Maka didapatlah luas lantai dasar/lantai satu luasnya 652 m2, lantai dua luasnya 695 m2, lantai tiga luasnya 695 m2 dan lantai empat luasnya 499 m2. total luas bangunan 2541 m2.
Pola penempatan kamar-kamar di lantai dua dan lantai tiga menggunakan double corridor, sehingga pintu kamar saling berhadapan. Semua kamar mempunyai balkon yang menghadap ke utara dan ke selatan. Lantai paling atas, dimanfaatkan untuk roof top kafe. Pemilik tingal di lantai ini untuk memudahkan pengawasan terhadap mutu layanan kepada penyewa. Keseluruhan fasilitas yang tersedia adalah 46 car park, 44 standard room ukuran 4 m x 6 m, 2 VIP room ukuran 5 m x 5 m dan satu presidential suite.
Fasada bangunan yang menghadap ke barat dikondisikan dengan penggunaan penutup dinding batu temple dan layering berupa kayu-kayu horosontal. Pada area drop off mobil dibuat kanopi transparan berbentuk segitiga, sehingga pengguna bangunan dapat turun dan naik mobil dengan nyaman.

Dilihat dari depan, skala bangunan memang tampak “gigantik” karena jarak GSB yang dekat dengan jalan. Namun lebih daripada itu, bangunan ini mengusung suasana tropis yang tercermin melalui kanopi, teritisan dn overstek yang cukup lebar.
Dalam hal ini aspek arsitektural sudah dimunculkan melalui bentuknya sehingga dapat dijadikan parameter baru bagi lingkungan sekitarnya. |